Pengukuran terhadap partisipasi
politik relatif lebih mudah dengan melihat hasil suara dalam pemilihan umum dan
dapat disimpulkan tingkat ketertarikan masyarakat dalam memilih,namun penting
mengetahui bahwa selain pengukuran terhadap partisipasi politik itu ada
partisipasi melalui kelompok-kelompok sosial. Lalu mengapa kelompok-kelompok
sosial itu dapat terbentuk? Menurut Prof.
Miriam Budihardjo dalam buku berjudul dasar-dasar
ilmu politik bahwa masyarakat mulai menyadari bahwa suara satu orang tidak
memiliki pengaruh besar dalam sebuah kontestasi pemilu terutama pada
negara-negara besar. Mereka menghimpun masa yang besar kemudian berharap
tuntutan mereka untuk dipenuhi ataupun didengar oleh pemerintah,tujuan kelompok
ini ialah memengaruhi kebijakan pemerintah agar memenuhi tuntutan mereka.
Selain kelompok-kelompok
diatas,pada abad-19 muncul pertama kali
kelompok-kelompok kepentingan. Pada fungsionalnya mereka tidak berusaha untuk
menduduki parlemen tetapi hanya sebatas membela kaum dan kepentingan mereka
sendiri. Mereka seperti kaum-kaum terpinggirkan seperti kaum buruh (Eropa
Barat).
Pada tahun 1960 barulah dikenal dengan
NSM (New Social Movement),gerakan ini sangat dinamis dan berkembang pesat
karena pada kondisi saat itu negara-negara di eropa timur ingin melepaskan diri
dari otoritarianisme menuju demokrasi. Bedanya dengan kelompok kepentingan
diatas adalah anggotanya merupakan generasi dari pasca-materialis
(post-materialist). Dinamakan seperti itu karena pada masa itu industri sudah
dapat memenuhi kebutuhan materiil dari masing-masing golongan,dengan seperti
itu maka gerakan ini fokus pada bidang-bidang diluar kepentingan materiil yang
tujuannya adalah meningkatkan kualitas hidup. Contoh dari NSM ini adalah
seperti mendirikan berbagai kelompok yang peduli terhadap masalah lingkungan
sampai pembelaan hak-hak manusia.
Realitasnya dasar dari kelompok ini
adalah protes kepada pemerintah. Mereka mengganggap pemerintah berat sebelah
dalam penyelesaian permasalahan dan mereka merasa terasingkan. Sehingga mereka
ingin memiliki hak otonominya dalam hal membenahi kepentingan NSM tersebut. Orientasi
mereka sangat mirip dengan ideologi kiri baru.
Kelompok-kelompok ini terus
berinteraksi dan mengawal pemerintah dalam pelaksanaan mengambil keputusan hal
ini sering dikenal dengan NGO (Non governmental organization). Mereka tidak
segan-segan untuk melakukan aksi-aksi kekerasan apabila tuntutan mereka tidak
tersampaikan dengan baik,tetapi mereka akan melalui jalan me-lobi eksekutif
sebelum turun kejalan. Tidak jarang mereka melakukan demonstrasi besar-besaran
yang mencakup dunia internasional seperti yang terjadi di gedung World Trade
Organization pada tahun 1966. Hal tersebut menunjukan betapa kuatnya aksi-aksi
yang dilakukan oleh NSM dan pastinya akan menjadi perhitungan pemerintah dalam
membuat kebijakan.
Oleh karenanya NSM sangat membantu
masyarakat tertindas untuk menjadi mediator antara kaum bawah dengan pemerintah
(democracy from below) sehingga
aspirasi mereka dapat tertampung dengan sebaik-baiknya. Tentunya dari tingkat
paling dasar (Grass root) sampai kepentingan-kepentingan besar lainnya sesuai
tujuannya akan tersampaikan sehingga pemerintah dapat mempertimbangkan
kebijakan yang akan dibuatnya. Kritikan terhadap NSM merupakan kritikan
lapangan dimana seringkali terjadi aksi langsung (direct action) yang
mengakibatkan banyaknya kerusakan ditempat-tempat tertentu. Hal tersebut
tentunya merugikan negara hingga dapat mengakibatkan kekacauan yang besar
terhadap negara tersebut.
“Pertentangan merupakan kewajiban
dalam demokrasi,karena hak dan kewajiban akan selalu bertentangan di negara
yang tidak berkeadilan” [MIH]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar