Dalam
situasional seperti ini politik bukan hanya sekedar mengejar kekuasaan
melainkan terhadap hal-hal yang tidak substansial dan cenderung bersifat
individual. Politik dewasa ini dipahami sebagai pijakan untuk mendapatkan
kekuasaan tertinggi dalam sebuah organisasi namun menghilangkan dampak edukasi
untuk mencerdaskan masyarakat sehingga sebaliknya politik dewasa ini mengarah
kepada hal-hal yang sangat dekat dengan kecacatan akal dan moral dalam etika
berbangsa dan bernegara. Politik seharusnya membangun persaingan dengan masalah-masalah
esensial yang akan berdampak baik pada kemajuan bangsa dan negara bukan malah
menjatuhkan dan membodohi masyarakat dengan propaganda perang “SARA”. Politik
SARA melegitimasi bahwa masih banyak oknum-oknum yang gagal dalam pemahaman
demokrasinya namun berhasrat untuk mendapatkan kekuasaan paling tinggi dalam
organisasi. Pantas sebenarnya kita dalam mengelaborasi politik hari ini lalu
membenahinya untuk mencegah terjadinya perang saudara hanya demi kepentingan
semata. SARA memberikan ruang tersendiri bagi para pelaku hoax dan oknum
politikus yang memberdayakannya sebagai upaya pencapaian kekuasaan.
Apabila
kita mengelaborasi politik SARA ini,akan kita pahami bahwa hal ini merupakan
sebuah bentuk politik yang akan mengarah pada gerakan separatisme namun tidak
terlihat secara fisik maupun ideologis karena dilindungi oleh politik
demokrasi. Apabila memahami politik SARA hanya sebagai cara buruk untuk
mencapai kekuasaan maka seseorang tersebut kurang mengelaborasi apa sebenarnya dampak
SARA itu. SARA kemudian akan melahirkan semacam penyakit alergi terhadap
politik karena nilai-nilai edukasi sebagai obat ataupun pencegah terjadinya
perpecahan gagal untuk diterapkan. Alergi politik ini timbul karena pemahaman
masyarakat yang sangat kurang dalam memahami politik sebagai alat untuk
menjalankan pemerintahan,bangsa maupun negara.
Bangsa ini patut untuk gelisah akan
kehadiran politik SARA ini karena bukan hanya akan melahirkan perpecahan secara
kedaerahan namun akan melahirkan perpecahan secara nasional yang kemudian akan
diakhiri dengan bubarnya negara ini. SARA dapat dipahami sebagai sebuah doktrin
untuk apatis terhadap politik karena nilai-nilai yang salah ditanamkan dalam
diri seseorang untuk membenci sekelompok golongan.
Alergi politik kemudian muncul karena
persepsi masyarakat terhadap kancah perpolitikan akan menjadi buruk. Politik
tidak lagi dipandang sebagai alat untuk mencapai pemerintahan yang baik namun
hanyalah sebagai alat para politikus yang haus akan kekuasaan. Wajar saja
apabila doktrin seperti ini kemudian berkembang didalam masyarakat yang pada
akhirnya akan menamakan diri mereka netral sehingga kemudian memilih untuk
menjadi Golput dalam perhelatan politik mendatang. Bangsa ini kemudian belum
pantas disebut bangsa yang demokratis karena kehilangan intelektualnya dalam
berdemokrasi,hari ini bangsa ini lebih tepat sebagai bangsa yang terjajah oleh
oknum politikus yang tidak tahu menahu tentang etika berdemokrasi.
Sudah seharusnya masyarakat membentengi
diri dengan akal pikiran yang baik untuk mencegah terjadinya doktrinisasi
seperti ini. Memilih adalah kewajibanmu
karena suatu saat kau akan dipilih -MIH