Minggu, 15 Juli 2018

Devide et Impera Menginfiltrasi Demokrasi


Siapa yang tidak tahu usaha kongsi dagang Belanda? Yap benar.. VOC namanya,salah satu organisasi dagang yang membelot dalam tujuan dagang yaitu melakukan usaha-usaha kolonialisme demi memperluas wilayah jajahan. Banyak kerajaan yang diruntuhkan dan diperbudak VOC lewat strategi politik keji yang berhasil digunakan VOC untuk menguasai banyak kerajaan di Indonesia. Diantaranya adalah kerajaan Banten,Gowa tallo sampai Mataram Islam.
Strategi politik itu sangat dikenal dengan istilah devide et impera atau dalam bahasa Indonesia adalah politik adu domba antara satu kepentingan dengan kepentingan lain. Hal itu terbukti dengan banyak peristiwa yang dilakukan VOC dan menjurus kepada adu domba pada kerajaan-kerajaan demi niat menguasai kerajaan tersebut.
Lalu apa hubungannya dengan keadaan zaman sekarang? Mari kita analisis secara jernih..
Secara praktiknya devide et impera membenturkan kepentingan antar saudara sesama bangsa atau kerajaan (dahulu) untuk membentuk sebuah citra dan kerja sama baru bersama bangsa penjajah. Dan hari ini kalau kita melihat alam berkehidupan bangsa dan negara maka pola-pola devide et impera ini semakin jelas bahwa hal itu merupakan sebuah produk warisan yang melekat dan dicontoh pada zaman ini. Yang paling menarik adalah pada masalah SARA,kita dapati bahwa banyak suku,agama,ras di Indonesia ini melahirkan organisasi-organisasi kecil dibawah garis besar judul SARA. Seperti contoh organisasi agama Islam yaitu Naudhlatul Ulama dengan Muhammadiyah,sebenarnya tidak ada masalah yang berarti kalau tidak ada pihak ketiga yang mencoba memecah belah dan mencela satu sama lain tetapi kemudian lahirlah pemikiran-pemikiran ekstrim terhadap golongannya menimbulkan kecintaan yang berlebih terhadap golongannya walau terkadang mengenyampingkan pokok inti dari nilai ajaran yang dianut.
Dewasa ini kita dihadapkan semakin berkembangnya alam demokrasi tetapi tidak diikuti dengan alam berpikir manusia demokrasi yang seharusnya berorientasi pada nilai persatuan dan bersama namun kepentingan golongan demi mencapai suatu kekuasaan yang langgeng. Sangat rawan bangsa ini disusupi hal-hal adu domba seperti ini karena pada realitasnya,bangsa ini seperti telah terbagi dua antara Oposisi dan pemerintahan yang berkuasa sehingga bagi mereka yang berada pada golongan oposisi orientasi mereka adalah membela oposisi begitu pula sebaliknya dengan pemerintahan. Ini berdampak besar bagi berlangsungnya harmonisme antar suku,agama dan ras,apalagi dengan bantuan sosial media yang mempunyai dampak luar biasa terhadap penyebaran informasi bagi semua kalangan. Sedikit meraba tentang kevalidan data dari informasi yang dibagikan maka dapat saya pastikan tidak semua data yang disebar merupakan sebuah kebenaran,kembali lagi pada politik adu domba diatas bisa jadi data yang dibagikan hanyalah demi kepentingan sebagian golongan dan berisi ujaran kebohongan (Hoax) lalu akan melahirkan permasalahan lebih besar yaitu ujaran kebencian.
Kelihatannya sangat menarik kalau kita menarik garis lurus melewati sejarah yang ada pada masa penjajahan Belanda (VOC),menurut analisa saya praktik politik adu domba modern ini ditengggarai oleh pihak dalam negeri sendiri menurut kamus lain adalah melawan bangsa sendiri. Sangat banyak realita menarik dari partai politik yang terjun untuk mengobrak-abrik isu SARA untuk mencapai sebuah kekuasaan,hal itu memantik perang dingin saudara sebangsa setanah air seperti perang pemikiran antar suku sampai perang pemikiran sesama golongan Agama yang menanggap bahwa alirannya lebih baik daripada yang lain.
Singkatnya apakah politik adu domba boleh dikatakan berhasil saat ini? Maka penulis beranggapan politik ini banyak sedikitnya telah mempengaruhi pemikiran masyarakat yang pada akibatnya muncul golongan ekstrimis baru di ranah negara melewati segala bidang dari sosial media sampai bertetangga untuk menyebarkan isu-isu bohong yang tujuannya membela golongan dan menjatuhkan lawan. Tentu ini akan semakin membesar seiring berkembangnya zaman dan populasi yang kian hari jumlah orang dewasa akan bertambah sehingga memunculkan kekuatan besar dari 2 “partai golongan” yang berbeda untuk saling bersaing dengan cara sehat maupun kotor walau dalam ranah memajukan bangsa dan negara sendiri.
Politik adu domba ini melahirkan provakator-provakator yang senantiasa memanasi panggung kehidupan bernegara,banyak dari mereka yang lahir dari ektrimnya pemikiran terhadap satu golongan sehingga menabrak batas-batas etika berpolitik. Banyak pula akibat provokasi yang terlewat akut memberikan trauma kepada pihak yang menjadi korban dari tindak provokator ini. Sudah seharusnya kita merevolusi alam demokrasi yang sudah sangat sakit ini,maka revolusi yang pertama harus dilakukan adalah revolusi pemikiran kita masing-masing. Bentengi diri dari berita adu domba dengan pengetahuan dan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap suatu topik sehingga tidak menerima berita dengan mentah-mentah saja.
“Penjajah memang sudah pergi,tetapi bayang mereka masih ada. Mereka pergi bukan menitipkan kemerdekaan yang hakiki,buruknya mereka menitipkan pemikiran,sifat dan trauma keji pada bangsa ini” [Muhammad Irfan Hilmy]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SERI PROGRESIVITAS HUKUM BAGIAN III

SERI PROGRESIVITAS HUKUM  BAGIAN III ANALISA  IUDEX   COMMON LAW SYSTEM  DAN  CIVIL LAW SYSTEM  DALAM PERAN PROFESI KEHAKIMAN ( Muh...