Siapa yang tidak tahu usaha kongsi dagang Belanda?
Yap benar.. VOC namanya,salah satu organisasi dagang yang membelot dalam tujuan
dagang yaitu melakukan usaha-usaha kolonialisme demi memperluas wilayah
jajahan. Banyak kerajaan yang diruntuhkan dan diperbudak VOC lewat strategi
politik keji yang berhasil digunakan VOC untuk menguasai banyak kerajaan di
Indonesia. Diantaranya adalah kerajaan Banten,Gowa tallo sampai Mataram Islam.
Strategi politik itu sangat dikenal dengan istilah
devide et impera atau dalam bahasa
Indonesia adalah politik adu domba antara satu kepentingan dengan kepentingan
lain. Hal itu terbukti dengan banyak peristiwa yang dilakukan VOC dan menjurus
kepada adu domba pada kerajaan-kerajaan demi niat menguasai kerajaan tersebut.
Lalu apa hubungannya dengan keadaan zaman
sekarang? Mari kita analisis secara jernih..
Secara praktiknya devide et impera membenturkan kepentingan antar saudara sesama
bangsa atau kerajaan (dahulu) untuk membentuk sebuah citra dan kerja sama baru
bersama bangsa penjajah. Dan hari ini kalau kita melihat alam berkehidupan
bangsa dan negara maka pola-pola devide
et impera ini semakin jelas bahwa hal itu merupakan sebuah produk warisan
yang melekat dan dicontoh pada zaman ini. Yang paling menarik adalah pada
masalah SARA,kita dapati bahwa banyak suku,agama,ras di Indonesia ini
melahirkan organisasi-organisasi kecil dibawah garis besar judul SARA. Seperti
contoh organisasi agama Islam yaitu Naudhlatul Ulama dengan
Muhammadiyah,sebenarnya tidak ada masalah yang berarti kalau tidak ada pihak
ketiga yang mencoba memecah belah dan mencela satu sama lain tetapi kemudian
lahirlah pemikiran-pemikiran ekstrim terhadap golongannya menimbulkan kecintaan
yang berlebih terhadap golongannya walau terkadang mengenyampingkan pokok inti
dari nilai ajaran yang dianut.
Dewasa ini kita dihadapkan semakin berkembangnya
alam demokrasi tetapi tidak diikuti dengan alam berpikir manusia demokrasi yang
seharusnya berorientasi pada nilai persatuan dan bersama namun kepentingan
golongan demi mencapai suatu kekuasaan yang langgeng. Sangat rawan bangsa ini
disusupi hal-hal adu domba seperti ini karena pada realitasnya,bangsa ini
seperti telah terbagi dua antara Oposisi dan pemerintahan yang berkuasa
sehingga bagi mereka yang berada pada golongan oposisi orientasi mereka adalah
membela oposisi begitu pula sebaliknya dengan pemerintahan. Ini berdampak besar
bagi berlangsungnya harmonisme antar suku,agama dan ras,apalagi dengan bantuan
sosial media yang mempunyai dampak luar biasa terhadap penyebaran informasi
bagi semua kalangan. Sedikit meraba tentang kevalidan data dari informasi yang
dibagikan maka dapat saya pastikan tidak semua data yang disebar merupakan
sebuah kebenaran,kembali lagi pada politik adu domba diatas bisa jadi data yang
dibagikan hanyalah demi kepentingan sebagian golongan dan berisi ujaran
kebohongan (Hoax) lalu akan melahirkan permasalahan lebih besar yaitu ujaran
kebencian.
Kelihatannya sangat menarik kalau kita menarik
garis lurus melewati sejarah yang ada pada masa penjajahan Belanda (VOC),menurut
analisa saya praktik politik adu domba modern ini ditengggarai oleh pihak dalam
negeri sendiri menurut kamus lain adalah melawan bangsa sendiri. Sangat banyak
realita menarik dari partai politik yang terjun untuk mengobrak-abrik isu SARA
untuk mencapai sebuah kekuasaan,hal itu memantik perang dingin saudara sebangsa
setanah air seperti perang pemikiran antar suku sampai perang pemikiran sesama
golongan Agama yang menanggap bahwa alirannya lebih baik daripada yang lain.
Singkatnya apakah politik adu domba boleh
dikatakan berhasil saat ini? Maka penulis beranggapan politik ini banyak
sedikitnya telah mempengaruhi pemikiran masyarakat yang pada akibatnya muncul
golongan ekstrimis baru di ranah negara melewati segala bidang dari sosial
media sampai bertetangga untuk menyebarkan isu-isu bohong yang tujuannya
membela golongan dan menjatuhkan lawan. Tentu ini akan semakin membesar seiring
berkembangnya zaman dan populasi yang kian hari jumlah orang dewasa akan
bertambah sehingga memunculkan kekuatan besar dari 2 “partai golongan” yang
berbeda untuk saling bersaing dengan cara sehat maupun kotor walau dalam ranah
memajukan bangsa dan negara sendiri.
Politik adu domba ini melahirkan
provakator-provakator yang senantiasa memanasi panggung kehidupan bernegara,banyak
dari mereka yang lahir dari ektrimnya pemikiran terhadap satu golongan sehingga
menabrak batas-batas etika berpolitik. Banyak pula akibat provokasi yang
terlewat akut memberikan trauma kepada pihak yang menjadi korban dari tindak
provokator ini. Sudah seharusnya kita merevolusi alam demokrasi yang sudah
sangat sakit ini,maka revolusi yang pertama harus dilakukan adalah revolusi
pemikiran kita masing-masing. Bentengi diri dari berita adu domba dengan
pengetahuan dan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap suatu topik sehingga
tidak menerima berita dengan mentah-mentah saja.
“Penjajah memang sudah pergi,tetapi bayang mereka
masih ada. Mereka pergi bukan menitipkan kemerdekaan yang hakiki,buruknya
mereka menitipkan pemikiran,sifat dan trauma keji pada bangsa ini” [Muhammad
Irfan Hilmy]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar