Assalamualaikum.. Bismillahirrahmanirrahim..
Belakangan ini sering kali kita mendengar istilah
Islam Nusantara. Istilah ini sebenarnya sudah ada daripada zaman-zaman
Walisongo terdahulu,tetapi kemudian dekat waktu ini kemudian dibangkitkan dan
menjadi topik para intelektual dalam banyak diskusi pembicaraan. Penulis akan
mengulas melalui data dan opini para ahli sejarawan Islam. Ternyata ada kaitan
pemikiran besar Liberal,Sekuler dengan Islam,hal ini layaknya seperti
propaganda besar untuk membentuk negara beragama seperti Indonesia menjadi
sekuler dan agama hanya tinggal nama nantinya.
Islam merupakan salah satu agama besar di dunia
yang berkembang untuk seluruh dunia bukan hanya Jazirah Arab dan
sekitarnya. Nabi Muhammad SAW sebagai penyebar agama Islam,menyebarkan agama
bukan hanya untuk penduduk Arab saja tetapi untuk menjadi Rahmatan lil ‘alamin.
Tertuang dalam surah Al-Anbiya ayat 107 yang mengungkapkan demikian,dalam ayat
itu sangat tegas bahwa Islam adalah rahmat semesta alam bukan hanya Arab maupun
negara terkhusus lainnya. Namun kemudian bermunculanlah kaum-kaum yang
menamakan dirinya Islam tetapi syariat yang dijalankan bukanlah Islam,seperti
Syi’ah dan aliran-aliran yang tidak menjalankan syariat sebagaimana yang
diperintahkan.
Di Indonesia sendiri sedang ramai saat ini
perdebatan tentang Islam Nusantara,pada hakekatnya Islam Nusantara dikenal dari tradisi ataupun cara yang dilakukan oleh para walisongo di Indonesia dalam menyebarkan agama dengan konsep
kesenian yang merakyat sehingga menarik minat masyarakat terdahulu untuk belajar
tentang Islam. Istilah Islam Nusantara saat ini ramai menjadi topik diskusi
intelek karena menimbulkan perdebatan dari banyak kalangan tak luput pula para sejarawan. Banyak diantara mereka yang menganggap bahwa Islam Nusantara kini
merupakan sebagai bentuk usaha Liberal dan Sekuler dalam melakukan doktrin
terhadap umat islam dalam melaksanakan syariat agama.
Selaras dengan para ulama dan kalangan yang
menyebut Islam Nusantara kini merupakan sebuah bentuk Neoliberalis dalam
membentuk negara menjadi sekuler,penulis akan mencoba menguraikan secara
ringkas tentang hal ini. Maka kalau kita melihat sejarah terdahulu,tidak pernah
ada konflik besar tentang Islam Nusantara ini. Para walisongo menyebarkan dakwah
lewat konsep kesenian yang kemudian menjadi kebudayaan bagi mayarakat,salah
satu contohnya adalah slametan,kenduri dan lain-lain. Hal itu mendarah daging dan menjadi kebudayaan
bagi masyarakat dari generasi ke generasi,Tentu belum ada masalah dan penyimpangan
tentang Islam Nusantara saat itu,lalu munculah seorang belanda bernama Snouck
Horgonje yang baru saja tiba dari Mekah setelah mempelajari Islam.
Snouck Horgonje melihat Islam di Hindia-Belanda
(Indonesia) tidak seperti yang ia lihat di tanah Arab. Kemudian muncul
pemikiran dari seorang Snouck Horgonje bahwa Islam di Hindia-Belanda merupakan
Islam yang hanya topeng tetapi tidak memiliki jiwa Islam di dalamnya,ini
merupakan sebuah kesalahpahaman Snouck Horgonje terhadap masyarakat di
Hindia-Belanda. Ia tidak bisa memahami secara baik tentang maksud dan latar
belakang tradisi masyarakat lokal saat itu,padahal itu merupakan strategi
dakwah para walisongo terdahulu untuk menyebar agama Islam. Lalu muncul kemudian
pandangan menjadikan kalangan anak-anak Islam dan pesantren untuk di
modernisasi,dan pandangan Snouck Horgonje disampaikan lalu diterima oleh Van De
Venter. Tentu modernisasi ini sangat berbahaya bagi perkembangan masyarakat
apabila berkaitan dengan agama karena dapat menjadi adu domba antara masyarakat
lokal dengan agamanya. Sejalan dengan pemikiran Auguste Comte tentang
modernisasi dimana manusia berorientasi pada fakta. Lambat laun masyarakat
lokal meninggalkan warisan-warisan walisongo tetapi para ulama terdahulu berusaha
untuk mempertahankan itu. Modernisasi ini menimbulkan banyak pemikiran baru
terhadap agama Islam dan tradisi sehingga dikenal dengan banyak klasifikasi
terhadap agama. Snouck Horgonje memisahkan pula antara bidang agama murni dan
kebudayaan,hal ini tentunya sangat kontra dengan kondisi masyarakat yang sangat
melekat dengan budaya namun karena telah terjadi doktrin modernisasi masyarakat
lambat laun menerima dengan begitu saja. Modernisasi ini memunculkan banyak
pandangan pula terhadap pesantren-pesantren di desa-desa bahwa mereka adalah
pendidikan primitif padahal sebenarnya tidak. Buku-buku yang dipakai pun
dianggap kuno padahal esensi buku tersebut adalah rangkuman dan juga
ajaran-ajaran yang baik dari arab.
Banyak hal yang kemudian muncul dari pemikiran
Snouck Horgonje dan kemudian menjadi salah besar seperti Teori Receptie a Contrario yang mengungkapkan bahwa Agama mengikuti
Adat bukan Adat mengikuti Agama. Snouck Horgonje seperti menusuk jantung para
muslim pada zaman itu karena pandangan dan pemikirannya yang kemudian tercium
kedekatannya dengan Belanda. Ia juga sering memberikan kontribusi pemikiran
terhadap Belanda dalam meredam pemberontakan Islam saat itu. seperti penamaan
gelar haji yang sebelumnya orang Islam di larang untuk berhaji lalu kemudian
oleh Belanda atas saran Snouck Horgonje orang Islam diperbolehkan untuk berhaji
dan diberi gelar haji tetapi tidak boleh berlama di Makkah.
Snouck Horgonje juga berusaha memisahkan antara
Islam dengan Politik,hal ini seperti pada pemikiran ia seperti telah dijelaskan
diatas bahwa Ajaran Islam dan bidang kemasyarakatan dipisah sehingga menyisakan
syariat-syariat seperti Sholat,Zakat dan Haji kemudian dasar-dasar
berekonomi,politik dan lain-lain ditinggalkan. Bentuk seperti itu sangat jelas
Snouck Horgonje berusaha untuk melanggengkan kekuasaan Belanda karena hal itu
secara tidak langsung memecah belah umat.
Dari pandangan para Liberalisme saat ini,Islam
tidak seusai dengan zaman pada saat ini dan hal ini tentunya sangat keliru.
Mereka menganggap kalau syariat Islam hadir hanya untuk zaman dahulu tetapi
tidak relevan pada zaman ini,penulis sangat menentang dan melawan pemikiran
ini. Banyak doktrin yang dicoba untuk disisipkan dalam masyarakat dalam
membentuk Islam yang liberal dan negara yang sekuler terhadap Islam. Pandangan
liberalis itulah yang menghasilkan pemahaman terhadap Islam Nusantara yang
membelot dari sejarah. Serupa dengan usaha Snouck Horgonje yang memiliki
pemikiran sangat cerdas untuk merubah haluan umat dan sangat berpotensi dalam
memecah belah umat.
Maka kalau kita lihat di beberapa waktu ini
propaganda menjadikan Islam liberal sangatlah gencar. Pada hakekatnya Islam
Nusantara merupakan sebuah diksi yang terpisah antara Islam dan Nusantara bukan
menjadi diksi yang satu karena akan memberikan arti yang berbeda dan
menyimpang. Menurut hemat penulis Islam Nusantara merupakan perpaduan antara
budaya yang mengikuti agama dalam berbudaya sehingga tidak keluar dari syariat
agama bukan malah agama yang mengikuti budaya.
Kaum Liberalis dan sekuler tidak pernah berhenti
untuk berusaha menjadikan negara ini seperti yang mereka kehendaki maka
berhati-hatilah dan terus menjadi pembelajar yang baik. [Muhammad Irfan Hilmy]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar