Pertarungan manusia bukan hanya
pada alam kenyataan namun sering kali bertabrakan pada alam pemikiran.
Tarik-menarik atas klaim ilmu pengetahuan mengakibatkan lunturnya nilai-nilai
kebenaran atas realitas kehidupan, seakan-akan kebenaran universal benar-benar
menghilang dari alam dunia saat ini. Namun bagi Paul Natorp (Filsuf
Jerman) segala kebenaran diketahui dan dinyatakan dan juga dibenarkan,kebenaran
itu sendiri tidak memerlukan hal itu, karena dia lah yang menunjukkan apa yang
diakui benar dan harus berlaku. Sehingga menurutnya tidak perlu klaim atas
sebuah pembenaran karena secara filosofis kebenaranlah yang akan menunjukkan
sesuatu yang memang benar adanya. Pada pencarian kebenaran ada mata rantai
filsafat yang pada tataran praksisnya akan membantu seorang menemukan sebuah
kebenaran, dengan memfalsifikasi yang terejawantahkan dalam
tesis-antitesis,aksi-reaksi,dan konstruksi-rekonstruksi sesuatu yang dianggap
benar dapat diketahui.
Pada semangat pencarian kebenaran
tersebut,seorang Rene Descartes datang dengan membawa semangat pemikiran yang
awam dikenal dengan istilah "Cogito
Ergo Sum" (aku berpikir maka aku ada),dan dengan semangat pemikiran
ini kemudian menjadi embrio bagi perkembangan dunia modern. Rene Descartes
memilih untuk melemahkan segala sesuatu yang ia lihat dan mulai menelaah titik
dari kebenaran suatu objek. Pemikiran ini pula ditelaah dari oleh para
sejarawan sebagai salah satu embrio dari lahirnya masa "renaissance" dan
"Aufklarung". secara historis Periode perjalanan yang
lebih progresif dibuka pada masa 3 serangkai tokoh yaitu
Thales,Anaximenes,serta Anaximendros yang dalam pemikiran ketiganya acap kali
terjadi kontradiksi seperti pembentukan alam ini. Setelah periode ini giliran
era Herakleitos yang sering dikenal dengan periode filosofi kemudian terus
berlanjut sampai periode klasik.
"Cogito
Ergo Sum" masih terus eksis walau banyak nalar pemikiran manusia
yang terganggu karena kepentingan pembelaan kaumnya dengan melawan suatu
kebenaran. Tokoh-tokoh terkemuka di dunia seperti Karl Max juga memakai paham
pemikiran ini dengan mendasarkan suatu kebenaran pada objektifitas,awam dikenal
dengan istilah Matrealisme namun Marx juga meyakini dalam pencarian kebenaran
tersebut akan ada selalu pertentangan sehingga secara lengkap dikenal dengan istilah
Matrealisme Dialektika.
Saat ini sangat jarang terjadi
sebuah pemikiran difalsifikasi untuk menemukan sebuah kebenaran,yang ada
pemikiran-pemikiran yang dianggap benar tersebut di paksa untuk diterima
sehingga terjadi klaim pembenaran atas pemikiran tersebut. Hal ini dikenal
dengan istilah "Logosentrisme" yang
berarti pula memusatkan ilmu pengetahuan dan kebenaran hanya pada satu pihak
dan tidak menerima kebenaran dari pihak lainnya. Bisa dikatakan pada hari
ini pemikiran kritis tidak di terapkan oleh semua orang tetapi hanya beberapa
orang saja,bukan karena tidak mau berpikir namun sering kali manusia hari ini
terbawa arus kepentingan sehingga cogito
ergo sum nya tidak dapat terimplementasi dengan baik.Implikasi logosentrisme bukan hanya berdampak buruk
semata namun berdampak menghancurkan peradaban umat manusia karena pemikiran
hanya dipegang oleh beberapa tokoh saja dan tidak mengindahkan pemikiran dari
orang lain. Fase awalnya kita akan berjalan ditempat atas pemikiran
tersebut,fase kedua kita akan mengalami dekadensi terhadap ilmu
pengetahuan,sehingga fase ketiga dapat disimpulkan manusia diambang kehancuran.
Banyak manusia yang sangat enggan hari ini untuk berpikir dengan melemahkan
lalu merekonstruksi suatu objek hanya karena keapatisannya terhadap suatu objek
tersebut. Hal tersebut terbukti dengan mudahnya banyak manusia mengamini segala
sesuatu yang dikeluarkan para ahli tanpa menakar kebenarannya. Fredrick Douglas
mengatakan bahwa jika tidak ada perjuangan maka tidak akan ada kemajuan,oleh karenanya
dengan membangkitkan serta memperjuangkan pemikiran adalah solusi terbaik untuk
menata intelektual alamiah manusia dengan tidak mengedepankan kepentingan namun
kebutuhan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar